BENANG KUSUT PESTA DEMOKRASI (Menjawab Syubhat Seputar Pemilu)

 

Penyusun : Ahmad Mu’min

 

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم النبيين وعلى آلة وصحبة والتابعين له بإحسان إلي يوم الدين

قلا الله تعلى

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ )۲۱(

 

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan agama (aturan/hukum) yang tidak diizinkan Allah untuk mereka? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan dari Allah tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azhab yang amat pedih.”

(QS. Asy-Syuura[42]:21)

D

i tengah kezhaliman yang menyelubungi mayoritas tatanan kehidupan masyarakat di seluruh belahan dunia, manusia berlomba-lomba untuk mecari suatu tatanan dan konsep hidup yang bisa mengeluarkan mereka dari kegelapan kezhaliman tersebut kepada cahaya keadilan yang merupakan dambaan dan impian setiap insan yang memiliki akal sehat dan fitrah yang lurus, masing-masing mencari dan memilih sistem yang sesuai dengan ideologi yang diyakini dan komunitas yang di hadapi; ada yang memilih kudeta dan demontrasi untuk mencapai keadilan, ada yang memilih kebebasan beragama, berfikir dan berbuat demi keadilan, ada yang membentuk bermacam lembaga yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia (!) dengan akronim (HAM) dan ada pula yang sibuk dengan mendirikan partai-partai politik untuk memperoleh jabatan dan kedudukan demi keadilan.

Semua sistem di atas termasuk ke dalam istilah DEMOKRASI yang didengung-dengungkan oleh semua partai-partai politik (‘Islam’ dan non Islam) dengan persepsi bahwa inilah satu-satunya konsep dan sistem yang bisa mewujudkan keadilan dan kedamaian, bahkan ada yang berkeyakinan bahwa demokrasi adalah hakekat dari syuura yang di perintahkan dan dijunjung tinggi oleh agama Islam.(!?) wal iya dzubillaah!

Sementara mereka menyadari (atau tidak?) bahwa perbedaan antara syuura dengan demokrasi
bagaikan malam dan siang dan jarak antara keduanya bagaikan timur dan barat. Keadilan itu hanya ada dalam syari’at Islam, bukan dalam demokrasi yang diproduksi oleh non Islam dan di adopsi oleh mayoritas kaum muslimin di zaman kontemporer ini.

Pemilu merupakan salah satu produk utama sistem demokrasi yang meletakkan rakyat sebagai satu kekuatan utama dalam proses pengambilan keputusan dengan prinsip mayoritas-minoritas. Demokrasi sangat bertentangan dengan Tauhid Rububiyyah dalam hal hukum dimana Allah U adalah satu-satunya Dzat yang berhak membuat dan menetapkan hukum (syari’at).

Allah
telah berfirman :


إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah” [QS. Yusuf : 40].

 

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [QS. Al-Maaidah : 44].

 

Kami  yakin kita semua sepakat dengan bathilnya sistem demokrasi menurut kaca mata syari'at jika ditilik dari sisi ini. Pun jika kita lihat dari Pemilu itu sendiri, tidak akan jauh berbeda dari demokrasi.  Pemilihan umum adalah memilih seorang penguasa, pejabat atau lainnya dengan jalan menuliskan nama yang dipilih dalam secarik kertas atau dengan memberikan suaranya dalam pemilihan.
				

Jika kita telah sepakat bahwa demokrasi itu haram, maka segala wasilah (perantara) yang dapat mewujudkannya pun otomatis dihukumi haram. Bukankah kaidah telah mengatakan “hukum sarana itu sesuai dengan hukum tujuan” (al wasailu tu’thii ahkamul maqosid). Belum lagi prinsip mayoritas-minoritas yang menjadikan semua manusia dalam satu kedudukan yang sama, bertentangan dengan ‘aql (akal), apalagi naql (dalil). Pemilu (dan juga demokrasi) telah menyamakan semua golongan dalam satu kedudukan, apakah ia seorang laki-laki, wanita, ‘alim, jahil, shalih, atau fajir.

 

Walaupun demikian jelasnya akan hal tersebut (bathilnya sistem demokrasi), tetap saja peperangan antara haq dan yang bathil akan terus berlangsung hingga akhir zaman. Segala aneka syubhat akan terus dihembuskan ketengah-tengah barisan kaum muslimin, baik itu dari orang-orang kuffar maupun dari kaum muslimin itu sendiri. Baik oleh mereka yang pemikirannya sudah diracuni orang kuffar ataupun oleh mereka yang jahil tentang ilmu agama (Islam) ini. Dengan dalil-dalil yang mereka paksakan maksudnya dan pemikiran, logika, serta perasaan yang mereka kedepankan yang belum pasti akan kebenarannya.

Dan berikut akan kami tampilkan beberapa syubhat seputar Pemilu ini beserta sanggahannya, yang mana syubhat-syubhat tersebut sangat populer di tengah kaum

muslimin. Hanya sebagian besar saja yang akan kami sebutkan karena keterbatasan. Syubhat-syubhat tersebut antara lain :

 

  1. “Sistem Demokrasi selaras dengan Islam”

    Mereka yang mengusung demokrasi berkata, ‘demokrasi di negeri kami sama artinya dengan syuura (musyawarah), di dalam Al-Qur’an sendiri terdapat surat yang namanya -Asy-Syuura- ‘. Lantas mereka membawakan ayat-ayat, “…Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarat antara mereka…” (Qs. Asy-Syuura: 38), “…Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam (seluruh) urusan…” (Qs. Ali Imron: 159).!?

Sanggahan: Kami tanyakan kepada mereka, pemahaman siapa yang kalian pakai? Apakah ada di antara Ulama Ahlussunnah/Hadits yang memahami ayat tersebut seperti pemahaman kalian?

Di dalam kitab Al I’thisam bil Kitab was Sunnah dalam shohih Imam Bukhari beliau membawakan bab sebagai berikut:

“Bab: firman Allah (artinya): ‘Dan urusan mereka (orang-orang yang beriman, pent.) diputuskan dengan musyawarat antara mereka.’ dan firman-Nya (artinya) ‘Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam (seluruh) urusan.’ Dan sesungguhnya musyawarat (dilakukan) sebelum membulatkan tekad dan (ada) kejelasan, sebagaimana firman Allah (artinya): ‘Kemudian apabilah kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.’ Apabilah Rasul ntelah membulatkan tekad tidak boleh bagi seorangpun untuk mendahului Allah dan Rasul-Nya. Rasulullahn telah bermusyawarat dengan para sahabat g di waktu perang Uhud tentang tetap tinggal di dalam Madinah atau keluar (menghadapi musuh, pent.) maka para sahabat berpendapat untuk keluar, tatkala beliau n telah memakai baju perangnya dan telah membulatkan tekad, para sahabat g berkata: ‘Tetaplah (wahai Rasulullah, pent.)’ akan tetapi beliau n tidak menerima (usulan itu) setelah beliau n membulatkan tekad seraya berkata: ‘Tidak pantas bagi seorang Nabi apabilah ia telah memakai baju perangnya untuk melepaskannya hingga datang keputusan dari Allah.’

Dan beliau n telah bermusyawarah dengan Ali dan Usamah c tentang tudingan palsu yang dilontarkan oleh orang-orang munafik terhadap ‘Aisyah x dan beliau mendengar dari mereka berdua, hingga turun Al Quran, lalu beliau mencambuk mereka (provokator tudingan itu, pent.) dan tidak menghiraukan perselisihan (pendapat) mereka, akan tetapi beliau melaksanakan hukum yang telah diperintahkan oleh Allah U.

Dan begitu juga para Imam (pemimpin) sepeniggal Nabi n , mereka mengajak orang-orang yang terpercaya dari kalangan ulama’ untuk bermusyawarat tentang permasalahan yang diperbolehkan agar mereka bisa mengambil yang termudah. Akan tetapi apabilah telah jelas (dalilnya) dari Al Qur’an dan sunnah mereka tidak akan meninggalkannya demi mencari yang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi n.

Abu Bakr z berpendapat untuk memerangi orang-orang yang tidak mau mambanyar zakat, lalu Umar z berkata: ‘Bagaimana kamu memerangi mereka, sedang Rasulullah n telah bersabda: Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan (La ilaha illallah), apabila mereka telah mengatakannya maka akan terpelihara (selamat) dariku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya, dan urusan mereka hanya diserahkan kepada Allah.’ Lalu Abu Bakr z berkata: ‘Demi Allah, saya akan perangi orang yang memisahkan antara apa yang telah disatukan oleh Rasulullah n.’ Kemudian Umar z mengikuti pendapat beliau. Maka Abu Bakr z tidak menghiraukan musyawarat (pendapat) apabila ia mengetahui hukum Rasulullah n tentang orang-orang yang memisahkan antara shalat dan zakat dan ingin merobah agama dan hukum-hukumnya, sedang Nabi n telah bersabda: ‘Barangsiapa yang merobah agamanya maka bunuhlah ia.’

Dan para ulama baik dari kalangan orang tua atau pemuda adalah anggota (majelis) syura Umar, dan beliau orang yang selalu berpegang kepada Al Quran.” (lihat: Fathul Bari 13/339).

Syekh Abdul Muhsin Al Abbad –salah seorang ulama hadits di Madinah An-Nabawiyah- حفظه الله setelah membawakan hadits-hadits dan menukil perkataan ulama salaf tentang syuura dan prakteknya di kalangan para khulafaur rasyidin dan ulama salaf, beliau berkata: “Dari apa yang telah dikemukakan jelaslah beberapa perkara berikut ini:

  • Sesungguhnya syuura (musyawarah) berlandaskan atas Al Qur’an dan Sunnah serta amalan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, diantara surat Al Qur’an adalah surat Asy-syuura’.
  • Sesungguhnya musyawarah dilakukan dalam hal yang tidak ada nash (dalil yang nyata) dalam Al Qur’an dan Sunnah. Dan sesuatu yang ada nashnya tidak boleh ditinggalkan, sebagaimana Allah U berfirman (artinya): “Tidak boleh bagi laki-laki dan perempuan yang beriman apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu masalah untuk memilih yang lain dari urusan mereka, barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.”(QS. Al-Ahdzaab : 36)
  • Seorang imam (pemimpin) memilih anggota majelis musyawarah dari tokoh-tokoh masyarakat dan para ulama.
  • Hasil musyawarah tidak mutlak berlaku dan dijalankan oleh pimpinan.

Inilah (empat) prinsip dasar musyawarat dalam Islam, adapun demokrasi yang diadopsi oleh mayoritas kaum muslimin dari orang-orang non Islam adalah berbeda (menyelisihi) seluruh prinsip di atas. Menurut mereka (orang-orang demokrat, pent.) bahwa majelis perwakilan yang dipilih oleh masyarakat sebagai wakil mereka, berhak membuat undang-undang yang tidak berasaskan agama dan undang-undang yang dibuat oleh majelis tersebut mutlak berlaku’. (Al ‘Adlu fi Syari’ah al Islam, hal: 30-31).

  1. “Kami Masuk Ke Dalam Pemilu Karena Darurat”

    Dalam hal ini mereka membawakan dan memaksakan salah satu kaidah fiqih “adh-dharuratu tubihu al-mahzhurat”
    (kemudharatan itu membolehkan hal-hal yang dilarang).

     

Sanggahan.
Baiknya mari kita simak bagaimana sebenarnya penerapan kaidah tersebut di atas sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama di kitab-kitab mereka.

 

Darurat berasal dari kata dharar yang berarti bahaya. Adapun secara istilah, berkata imam Az Zarkasyi t
(w.794 H) : “Darurat adalah sampainya kepada batasan, jika tidak menunaikan yang terlarang niscaya akan binasa atau hampir binasa.”

 

Ada juga yang mengatakan “darurat adalah apa-apa yang menyebabkan bahaya bagi hamba jika di tinggalkan, dimana tidak ada lainnya yang menempati sebagai pengganti.” (Qawaidul Fiqhiyyah, Sulaiman Abu Syeikha).

 

Darurat adalah udzur yang membolehkan dengan sebab adanya (udzur tersebut) untuk melakukan sesuatu yang dilarang. Melakukan hal yang dilarang seperti memakan bangkai di saat darurat dan mengucapkan kufur saat terpaksa. Perlu diketahui bahwa sesuatu yang diperbolehkan karena darurat, maka dilakukan sekedarnya. Barangsiapa yang terpaksa memakan bangkai, maka ia tidak boleh memakannya, kecuali sekedar dapat menahan hidup dan tidak boleh sampai kenyang.
(Taudhihul Ahkan Min Bulughul Maram, Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman Al-Bassam).

 

Imam As-Suyuthi t –dalam Asybah wan Nazha’ir– berkata:

Darurat adalah sampainya seseorang pada sebuah batas di mana jika dia tidak melakukan yang terlarang (haram) maka dia akan binasa atau mendekati binasa. Kondisi inilah yang membolehkan pelanggaran larangan.”

 

Banyak sekali dalil-dalil yang mendasari atas kaidah tersebut, di antaranya:

Firman Allah l, yang artinya:

“Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya.” (QS : Al-Baqorah : 173 ),

 

“Sesungguhnya Allah Telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu membutuhkanya.” (QS Al-An’am :119 ),

 

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman [dia mendapat kemurkaan Allah], kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman [dia tidak berdosa], akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”.  (QS. An-Nahl: 106).

 

Kemudian dalam penerapan kaidah darurat tersebut para ulama mengemukakan syarat-syarat yang harus kita perhatikan, dimana syarat-syarat ini sangat penting sekali karena sebagian manusia menginginkan keringanan dari hukum syari’at dengan alasan kaidah ini dan tidak memperhatikan syarat-syaratnya. Syarat-syarat tersebut antara lain ;

Syarat pertama: hendaknya kondisi genting, gawat dan bahaya tersebut bisa hilang dengan mengerjakan hal yang haram tersebut , jika tidak bisa hilang keadaan genting tersebut maka tidak boleh mengerjakan hal yang haram tersebut, ahlul fiqh memberikan misal : orang yang sangat kehausan dan tidak mendapati air kecuali khamer (minuman keras) maka ini tidak boleh diambil untuk diminum karena khamer (minuman keras) tidak menghilangkan dahaga dan haus, bahkan akan membuat orang tersebut semakin kehausan dan semakin dahaga dan menyebabkan ketagihan dan ketergantungan, maka hal yang haram disini malah justru menambah bahaya dan tidak bisa menghilangkan bahaya tersebut .

Syarat kedua: tidak ada jalan lain untuk menghilangakn kondisi gawat dan bahaya tersebut, namun jika ada jalan lain maka tidak boleh mengerjakan hal yang haram tersebut, misalnya: ada dokter laki-laki dan dokter perempuan , sedang pasiennya adalah pasien perempuan maka kita mengunakan dokter perempuan untuk memeriksa tubuh pasien perempuan yang sakit tersebut, dan kita tidak boleh memilih dokter laki-laki untuk memeriksa pasien perempuan dikarenakan adanya dokter wanita yang siap dan ada.

Syarat ketiga: hendaknya hal yang haram tersebut lebih sedikit dari dharurah (bahaya) maka jika dharurahnya (bahayanya) lebih besar maka tidak boleh, misalnya: jika bahayanya adalah menghilangkan nyawa orang lain agar dirinya selamat sebagaimana dalam misal paksaan (dalam kaidah jika ada dua mudharat/bahaya saling berhadapan maka diambil yang paling ringan) disini dharurah lebih sedikit dibanding hal yang diharamkan yaitu membunuh orang lain sedang dharurahnya (bahayanya ) ancaman manusia kepada dirinya akan dibunuh, dengan ucapan mereka: bunuh orang lain jika tidak maka kami akan membunuhmu, maka ini tidak boleh dituruti.

Syarat keempat: jika hilang bahaya tersebut (setelah melakukan hal yang dilarang) maka hilanglah hukum halal untuk melakukan hal yang dilarang tersebut, (artinya tidak boleh menambah lebih banyak hal yang diharamkan) dan tidak boleh bagi manusia untuk menambah lebih banyak dalam melakukan hal yang dilarang tersebut, hanya sekedar hal yang bahaya tersebut bisa hilang. Jika hilang bahaya (dharurah)nya maka tidak boleh melakukan hal yang dilarang, untuk itu jika melihat air maka tayamumnya menjadi batal, dan ulama mengatakan: ma jaaza li ‘udrin bathola bizawalihi artinya: apa saja yang bisa menghilangkan uzhur maka batallah dharurah tersebut. (Qawaidul Fiqhiyyah oleh Sulaiman Abu Syeikha)

Nah, sekarang dapat kita lihat dari makna ‘darurat’ itu saja para pengusung Pemilu sudah tertolak, apatah lagi jikalau harus memenuhi syarat-syaratnya. Hal ini dapat kita ketahui dengan fakta nyata berikut:

  • Saat ini semua warga di berbagai Negara (terlebih di Negara kita Republik Indonesia) ini tidak dalam keadaan terpaksa ataupun dipaksa, justru sebaliknya, mereka dalam keadaan sukarela ikut melaksanakan Pemilu. Bahkan sikap kerelaan terhadap kemungkaran ini diperdaya oleh semboyan “Pergunakanlah Hak Anda Dengan Sebaik-baiknya!”
  • Sudah kita maklum bersama, jika seseorang sudah berkecimpung dalam ruang demokrasi ini akan sulit sekali untuk keluar, alih-alih untuk merobah keadaan, malah ikut asyik dalam permainannya. Memang benar pepatah mengatakan “sudah duduk, lupa berdiri“.

Jadi bisa katakan bahwa alasan ini (darurat) sangat tidak nyambung men!

 

  1. Ikut Pemilu Karena Memilih Bahaya Yang Lebih Ringan

Mereka mengatakan; “Kami mengakui bahwa pemilu ini buruk akan tetapi keikutsertaan kami adalah dalam rangka mengambil yang paling ringan dari dua mafsadat dan demi mewujudkan kemaslahatan yang lebih besar.” Kaidah yang mereka gunakan Idzaa ta’aaradha dhararaani daf’u akhfahuma” (jika dua madharat (bahaya) berhadapan maka diambil yang paling ringan).

Sanggahan: Jikakalau menurut kalian ikut serta dalam majelis perwakilan itu adalah yang ‘paling ringan’ mafsadat (bahayanya), maka kami tanyakan siapakah hakim dalam majelis perwakilan tersebut, Allah-kah ataukah manusia? Kami yakin pasti jawaban kalian manusia. Kemudian, apabila hukum manusia yang berkuasa di majelis perwakilan, apakah yang seperti ini termasuk syirik kecil atau syirik besar? Jawabannya, ini adalah termasuk syirik besar, kenapa? Karena hukum-hukum Allah U diabaikan dan di sana ada orang-orang yang tidak mengakui hukum Allah akan tetapi hukum-hukum menurut mereka pada suara terbanyak. Apabila ini sudah merupakan kesyirikan berupa penentangan terhadap syari’at Allah f, lantas masih adakah dosa yang lebih besar daripada kesyirikan dan kekufuran ini??
Rasulullah n pernah ditanya : “Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?” Beliau n
menjawab : “Yaitu kamu menjadikan bagi Allah tandingan padahal Dia yang telah menciptakan kamu.” Kemudian beliau n ditanya lagi setelah itu maka beliau menjawab : “Kamu membunuh anakmu sendiri karena khawatir ia ikut makan bersamamu (takut melarat) … .” (Muttafaq ‘alaih dari Abdullah bin Mas’ud z).

Pantaskah hal tersebut (partipasi dalam demokrasi) dianggap sebagai mafsadat yang lebih ringan?! Wallaahi…ini adalah penerapan kaidah-kaidah agama yang sangat-sangat jauh melenceng dari yang seharusnya. Belum lagi jika mereka mengetahui syarat-syarat dan batasan-batasan dalam penerapan kaidah tersebut.

 

Syarat-syarat mempergunakan kaidah “melakukan kerusakan kecil demi menangkal kerusakan yang besar”.


1). Kemaslahatan yang diharapkan memang benar adanya bukan sesuatu yang masih mengambang. Kita tidak boleh melakukan suatu kerusakan yang nyata dengan alasan untuk menarik kemaslahatan yang belum pasti. Seandainya sistem demokrasi memang menopang Islam dan syariatnya dengan sebenar-benarnya pastilah (orang-orang partai) di Mesir, Syam, Al Jazair, Pakistan, Turki atau di negeri lain di muka bumi telah sukses semenjak enam puluh tahun yang lalu .


2). Kemaslahatan yang diharapkan lebih besar daripada kerusakan yang dilakukan, itu dengan pemahaman ulama yang kokoh ilmunya. Bukan dengan pemahaman orang-orang yang tenggelam dalam fanatik hizbiyyah atau orang-orang pergerakan atau juga para pengamat partai.
Orang yang mengetahui bahwa di antara kerusakan demokrasi yang banyak adalah penghapusan syariat Islam dan tidak butuh kepada para Rasul n karena halal dan haram oleh mereka ditentukan dengan pendapat mayoritas bukan dengan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah n.

Orang yang mengetahui bahwa di antara kerusakan demokrasi adalah melenyapkan pondasi Al Wala’ wal Bara’ karena agama, menyamarkan akidah yang gamblang demi merekrut hati dan suara serta meraup kursi parlemen. Orang yang mengetahui hal ini tidak akan mengatakan bahwa masuk ke dalam parlemen lebih ringan bahayanya bahkan yang benar adalah sebaliknya. Kalaulah kita terima bahwa itu nama saja (antara bahaya dan manfaat) maka (kaidah yang harus dipakai adalah) menolak bahaya dikedepankan daripada mengambil kemaslahatan.


3). Hendaknya tidak ada jalan untuk menggapai kemaslahatan tersebut kecuali dengan melakukan kerusakan ini. Seandainya kita mengatakan bahwa dalam perkara ini tidak ada jalan lain (kecuali dengan melakukan demokrasi) berarti kita telah menvonis manhaj Rasulullah n tidak layak pakai untuk menegakkan hukum Allah U
di muka bumi .
Adapun orang-orang yang mengikuti kebenaran mengetahui bahwa metode demokrasi dan kehidupan multi-partai tidak menambah apa-apa kecuali hanya memperlemah saja. Karena sebab itulah musuh-musuh Islam dari kalangan yahudi, nashara dan lain-lainnya terus berupaya melestarikan berhala ini sepanjang zaman. Dan Allah Maha Mengetahui di balik semua itu. (Buku: “
Menggugat Demokrasi dan Pemilu, Menyingkap Borok-borok Pemilu dan Membantah Syubhat Para Pemujanya”. Karya Ulama dari Yaman, Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam)

 

  1. “kalau semua orang islam pada enggak memilih seperti kamu,.. nanti kalo yang jadi pemimpin orang kafir gimana???”

     

Sanggahan: Inilah statement sekarang ini banyak menggelayut di benak orang-orang. Pernyataan ini keluar dari mereka dengan landasan logika dan analisa kemungkinan. Dan tentunya karena ketidakmampuan mereka dalam membantah dalil-dalil dan bukti nyata. Memang, jika sepintas mendengar pernyataan tersebut maka orang-orang yang kurang pengetahuan agamanya pasti akan terpengaruh dan ini musibah. Baik, jikalau kalian (pendukung demokrasi) berkilah dengan pertanyaan dan analisa kemungkinan kalian tersebut, maka akan kami jawab dengan beberapa hal berikut :.

Pertama, Kalau misalnya semua orang Islam tidak memilih (golput), insya Allah akan diusulkan Referendum di MPR, UUD 1945 selanjutnya bisa diganti isinya dan sistem Demokrasi akan segera berakhir.

Kedua, Jika melihat data statistik yang ada, penduduk Indonesia saat ini tahun 2013 diperkirakan mencapai 250 juta jiwa, dengan populasi muslim 85% lebih dan sisanya 15% non-muslim. Di mana-mana yang namanya mayoritas selalu menguasai minoritas, ditambah dengan keadaan kaum muslimin saat ini yang tidak semua orang mengerti dan mengetahui status hukum pemilu dalam kacamata syari’at, sehingga sangat jauh kemungkinan kekosongan suara di pemilu, kami berkata demikian bukanlah untuk melegimitasi pemilu karena yang salah tetaplah salah. Kalaupun harus kalian paksakan pernyataan tersebut maka konsekwensinya harus berhadapan dengan kaidah darurah yang sudah kami bahas pada poin kedua yang persyaratannya begitu sangat ketat untuk dipenuhi serta hanya dapat dilaksaknakan oleh orang-orang yang benar ilmunya.

Ketiga, Kemudian jika ada yang memprediksi keadaan nantinya di Negara kita Indonesia khususnya bisa dialami dengan pernyataan tersebut atas dasar tragedi yang terjadi sekarang di Suriah, tentu kami rasa ini sangat berlebihan, mengapa? Hal ini dikarenakan oleh beberapa sebab:

  • Banyaknya media massa yang memberitakan latar belakang terjadinya konflik di Suriah, di antaranya;

 

“Konflik Suriah yang dimulai sejak demonstrasi di kota Dharaa, 11 Maret 2011 lalu sampai detik ini tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan berkhir, tapi justru semakin kacau seiring ancaman AS yang akan menyerbu negara itu. Hal ini diperburuk dengan adanya campur tangan dari pihak-pihak luar Suriah dengan berbagai kepentingannya.  Ada yang mendukung AS dengan menyediakan pangkalan militer dan segala logistik yang diperlukan (Turki, Arab Saudi dan Qatar). Ada pula yang mendukung rezim jika memang terjadi agresi AS terhadap Suriah (Rusia, China, Iran dan Lebanon). Akibat dari konflik itu,  anak-anak kehilangan orang tuanya, wanita kehilangan suami dan keluarganya, dan keluarga  kehilangan harta benda mereka.

Rakyat Suriah terancam kehilangan masa depan karena akses pendidikan yang terputus.” (Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA)
http://mirajnews.com/).

Coba kita lihat bagaimana salah satu mass media di sana memberitahukan awal terjadi konflik berdarah di Suriah, bukankah itu merupakan olah dari salah satu produk demokrasi? Yakni demonstrasi? Bukan akibat kaum muslimin yang golput. Belum lagi informasi yang bertebaran menyebutkan yang semua itu berkutat pada akibat perpolitikan.

  • Kalau kita melihat dan membaca sejarah berdirinya Negara Suriah, maka akan tidak berbeda jauh dengan negara-negara lain di dunia (juga Indonesia). Coba perhatikan data berikut:

Negara Suriah atau Lengkapnya disebut dg Republik Arab Suriah (الجمهورية العربية السوري Al-Jumhūriyyah al-ʿArabiyyah as-Sūriyyah) adalah sebuah negara berpenduduk mayoritas umat Islam bermazdhab Syiah, yang terletak di Timur Tengah, dengan negara Turki di sebelah utara, Irak di Timur, Laut Tengah di barat dan Yordania di selatan.

Selain memiliki Kota Damaskus sebagai Ibukota Negaranya, Suriah juga memiliki beberapa kota lainnya dengan kode ISO-3166-2. Terdapat 14 Kota yg masuk wilayah Suriah, yaitu:

  • DA – Dara
  • DI – Dimashq
  • DZ – Dayr az Zawr
  • HA – Al Hasakah
  • HI – Hims
  • HL – Halab
  • HM – Hamah
  • ID – Idlib
  • LA – Al Ladhiqiyah
  • QU – Al Qunaytirah
  • RD – Rif Dimashq
  • RQ – Ar Raqqah
  • SU – As Suwayda
  • TA – Tartus

Kemerdekaan Suriah
Kemerdekaan Suriah dideklarasikan pertama kali pada tahun 1936 (merdeka dari Perancis). Kemudian dideklarasakian untuk kedua kalinya pada tahun 1944 dan menjadikan tanggal 17 April 1946 sebagai hari kemerdekaan Suriah.

Sistem Pemerintahan Suriah
Negara Suriah yang memiliki Lagu kebangsaan dengan judul Homat el Diyar ini, menerapkan sistem Pemerintahan Republik Presidensial di bawah Hukum Darurat sejak tahun 1963.

Daftar Kepala Negara / Presiden
Jauh sebelum Deklarasi kemerdekaan Suriah (masih menggunakan sistem kerajaan), Kepala Pemerintahan Suriah antara tahun 1918-1920 dipimpin oleh:

  • ‘Ali Rida Basha ar-Rikabi: 30 September-5 Oktober 1918
  • Emir Faisal: 5 Oktober 1918-8 Maret 1920

Kemudian pada tahun 1920 dipimpin oleh Raja Suriah yg dikenal dg Faisal I: 8 Maret-28 Juli 1920.

Selanjutnya antara tahun 1922-1936, Suriah telah beberapa kali dipimpin oleh Kepala Negara atas Mandat Perancis. Beberapa orang yg pernah menjadi Kepala Negara Suriah, yaitu:

  • Subhi Bay Barakat al-Khalidi: 28 Juni 1922-21 Desember 1925
  • François Pierre-Alype (sementara): 9 Februari-28 April 1926
  • Damad-i Shariyari Ahmad Nami Bay: 28 April 1926-15 Februari 1928
  • Shaykh Taj ad-Din al-Hasani: 15 Februari 1928-19 November 1931
  • Muhammad ‘Ali Bay al-‘Abid: 11 Juni 1932-21 Desember 1936

Setelah menjadi Pemerintahan Rebuplik antara tahun 1936-hingga saat ini, tercatat 24 orang yg pernah menjadi Presiden Suriah:

  1. Hashim al-Atassi: 21 Desember 1936-7 Juli 1939
  2. Bahij al-Khatib (Ketua Dewan Komisioner): 10 Juli 1939-16 September 1941
  3. Khalid al-Azm (sementara): 4 April-16 September 1941
  4. Taj al-Din al-Hasani: 16 September 1941-17 Januari 1943
  5. Jamil al-Ulshi (sementara): 17 Januari-25 Maret 1943
  6. ‘Ata’ Bay al-Ayyubi (Head of State): 25 Maret-17 Agustus 1943
  7. Shukri al-Kuwatli: 17 Agustus 1943-30 Maret 1949
  8. Husni al-Za’im: 30 Maret-14 Agustus 1949
  9. Hashim al-Atassi (Head of State): 15 Agustus 1949-2 Desember 1951
  10. Fawzi Selu (Kepala Negara): 3 Desember 1951-11 Juli 1953
  11. Adib al-Shishakli: 11 Juli 1953-25 Februari 1954
  12. Hashim al-Atassi: 28 Februari 1954-6 September 1955
  13. Shukri al-Kuwatli: 6 September 1955-22 Februari 1958
  14. Bagian Uni Republik Arab: 22 Februari 1958-29 September 1961
  15. Maamun al-Kuzbari (sementara): 29 September-20 November 1961
  16. Izzat an-Nuss (sementara): 20 November-14 Desember 1961
  17. Nazim al-Kudsi: 14 Desember 1961-8 Maret 1963
  18. Luai al-Atassi (Ketua Dewan Komando Revolusioner Nasional): 9 Maret-27 Juli 1963
  19. Amin al-Hafez (Ketua Dewan Presidensial): 27 Juli 1963-23 Februari 1966
  20. Nureddin al-Atassi (Kepala Negara): 25 Februari 1966-18 November 1970
  21. Ahmad al-Khatib (Kepala Negara): 18 November 1970-22 Februari 1971
  22. Hafez al-Assad: 22 Februari 1971-10 Juni 2000
  23. Abdul Halim Khaddam (sementara): 10 Juni-17 Juli 2000
  24. Bashar al-Assad: 17 Juli 2000 -sekarang, dengan Perdana Menteri: Muhammad Naji al-Otari

Bahasa Resmi Negara Suriah
Suriah menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara Suriah. Namun terdapat beberapa bahasa lain yg lazim digunakan oleh sebagian warga negara Suriah yaitu: Aramaik, Armenia, Kurdi, dan Turkmen.

Sumber Kamus Negara:
http://id.wikipedia.org/wiki/Suriah

Nah, sekarang dapat kita ketahui yang melatarbelakangi semua itu, bukankah akibat demokrasi? Demokrasi lawan demokrasi?! Bukan akibat umat Islam yang tidak memilih/golput (melaksanakan sesuai syari’at). Tidak, kita tidak boleh mengkambinghitamkan umat Islam yang konsisten memegang syari’at Islam atas tragedi tersebut.

Terus, bagaimana dengan fenomena yang sering terjadi yang sangat memprihatinkan. Ketika penguasa (rezim) yang memerintah berbuat semena-mena terhadap rakyatnya. Kezhaliman penguasa membabi buta, kekacauan menyebar sangat cepat. Perampokan, pencurian, penjarahan, pemerkosaan menjadi menu halaman media massa. Kenapa pemimpin kami begitu kejam terhadap rakyat? Mengapa…?

Marilah kita renungkan firman Allah U :

[۱۲۹]
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Dan demikianlah, Kami jadikan penguasa yang zhalim bagi sebagian yang lain, karena apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)

Qatadah t berkata, ” Allah U menempatkan manusia berdasar amalannya. Orang berzina dipuji orang yang berzina di manapun berada. Demikian juga orang kafir menjadi wali bagi jenisnya. (makna ayat: Allah U membalas orang zhalim dengan menempatkan orang zhalim atas mereka, melenyapkan mereka dengan golongannya, membalas mereka dengan orang-orang sejenisnya sebagai balasan kezhaliman dan kebengisan yang dilakukan). Kezhaliman yang dilakukan masyarakat kita terlalu beragam (termasuk kita). Kezhaliman terhadap Allah ldengan perbuatan syirik, menyepelekan keputusan Rasul-Nya dalam menganalisa inti permasalahan. Zhalim terhadap tetangga (manusia), binatang dan alam semesta. Terlalu banyak untuk dibilang satu persatu. Jadi, jangan cepat mengkambinghitamkan orang lain, instrospeksi diri dengan teliti dulu. Al –Imam Ibnu Abil Izzi t seorang Ulama besar abad VIII memberikan nasihat, “Kalau rakyat ingin lepas dari kelaliman penguasa yang zhalim, hendaklah mereka melepaskan (diri) dari tindakan kezhaliman telebih dahulu.” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah hlm. 381).

Berikut kami nukilkan fatwa/nasihat salah seorang Ulama Ahlussunnah tentang bagaimana sikap seorang muslim berkenaan tragedi atau musibah yang sedang menimpa rakyat Suriah ( kami kutip dari situs http://www.artikelmuslim.com/05/03/2012) ;


Syaikh Musa Alu Nashrحفظه الله :

الحمد للّه والصلاة والسلام على رسول اللّه وعلى آله وصحبه و من والاه وبعد

Saya berterima kasih kepada ikhwah yang melontarkan pertanyaan seputar permasalahan ini. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin itu dalam keadaan baik ; mereka saling merasakan penderitaan yang dirasakan oleh sebagian lainnya ; Jarak yang jauh yang memisahkan negara-negara kaum Muslimin tidak menghalangi mereka untuk merasakan penderitaan yang dialami serta mendengarkan harapan saudara-saudara mereka. Ini menunjukkan kebenaran sabda Rasulullah
`.

مَثَلُ الْمُؤْ مِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِا إِذَا اشْتكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِا لْحُمَّ وَالسَّهْرِ

“Perumpamaan kaum Muslimin dalam hal saling cinta-mencitai, sayang-menyayangi, kasih-mengasihi diantara mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh mengeluh (kesakitan), maka seluruh badan akan merasakan demam dan tidak bisa tidur malam”. [HR Muttafaqqun ‘alaih]

Beginilah seharusnya kaum Muslimin, dia merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya sesama Muslim dimanapun mereka berada. Dia ikut sedih ketika saudaranya bersedih dan ikut merasa gembira ketika saudaranya bergembira. Dan dia akan mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu, jika saudaranya itu tertimpa musibah.

Kewajiban kita terhadap saudara-saudara kaum Muslimin di Suriah adalah mendoakan mereka kepada Allah dan berdiri bersama mereka, membantu meringankan beban musibah berat yang menimpa mereka. Penyerangan yang dilakukan oleh Syi’ah Nushairiyah, atheis, kafir terhadap kaum Muslimin, khususnya Ahlus Sunnah. Penduduk Suriah saat ini, khususnya Ahlus Sunnah dihadapkan pada penyerangan terhadap ibadah mereka. Tindakan penguasa yang jahat ini berniat hendak menghilangkan dan memberangus Ahlus Sunnah dari negeri Suriah dengan menjalin kerja sama dengan Syi’ah Iran Al-Majusi yang kejam juga kelompok Hizbullah di Lebanon.

Maka kewajiban wahai kaum Muslimin yang ada di Indonesia atau di semua negara Islam untuk bersatu mengambil satu sikap dan berdiri dalam satu barisan, membantu saudara-saudara kita di Suriah dengan menyumbangkan harta, obat-obatan dan makanan dan semua yang mereka butuhkan. Juga mendorong penguasa di negara masing-masing untuk mengambil langkah tegas terkait tindakan Syi’ah Nushairiyah yang kejam ini yang melakukan pembantaian terhadap anak-anak, kaum wanita dan orang-orang tua. Bahkan sampai pada penodaan terhadap kebersihan dan kesucian mushaf-mushaf Al-Qur’an, penghancuran masjid-masjid dan pemerkosaan terhadap wanita yang menjaga kesucian mereka. Minimal, para imam masjid harus memimpin para jama’ahnya mendo’akan saudara-saudara kita dalam qunut nazilah saat melaksanakan shalat fardhu lima waktu.

Kaum muslimin wajib mendoakan saudara-saudara mereka di Suriah, dan memberikan bantuan sesuai kemampuannya, baik merupakan pakaian, obat-obatan atau harta. Dan masing-masing kita bisa membantu saudara kita sebagaimana sabda Rasulullah
`.

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًاأومَظْلُوْمًا (قِيْلَ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُوْمًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ : تَكُّفُهُ عَنِ الْظُّمِ)

“Bantulah saudaramu, baik yang melakukan perbuatan zhalim, ataupun yang di zhalimi. [(Rasulullah) ditanya : “Kami membantunya jika dia terzhalimi, bagaimana kami membantunya saat dia melakukan perbuatan zhalim? Rasulullah
`
menjawab, “Engkau menahan atau mencegahnya dari perbuatan zhalimnya-red]

Dan kami sudah menjelaskan di markaz Al-Albani sikap kami dalam fatwa yang sudah kami sampaikan, dan saudara-saudara bisa mendapatkannya di website http://www.almahajjah.net dan forum http://www.kulalsalafiyeen.com

Kami sudah jelaskan sikap dakwah Salafiyah yang penuh barakah terhadap peristiwa yang menyayat perasaan ini dan bagaimana seharusnya sikap kaum Muslimin secara umum dan kaum Salafi secara khusus terhadap tindakan dan berbagai aksi brutal ini. Kita wajib berusaha menghilangkan dan mengingkari perbuatan-perbuatan keji ini serta memasrahkan diri kepada Allah U
mendo’akan agar tindakan jahat ini segera dihilangkan dan dilenyapkan dan juga mendoakan kebaikan untuk saudara-saudara kita kaum Muslimin di Suriah.

Risalah ini saya sampaikan lewat mimbar Radio Rodja kepada semua kaum Muslimin yang bisa mendengar suara saya ini, baik di belahan bumi bagian barat ataupun timur, untuk menolong saudaranya Ahlus Sunnah di Suriah yang menghadapi penyerangan terkejam dan terbengis yang belum pernah tercatat dalam sejarah. Kebrutalan yang lebih kejam dan bengis daripada kejahatan Adolf Hitler, Holagu Khan dan Jengkhis Khan, bahkan melebihi kekejaman dan kebrutalan kaum Yahudi.

Kita memohon agar
Allah
U
segera mengenyahkan tindakan yang jahat ini. Semoga Allah
U
memperlihatkan kepada kita ayat-ayat-Nya.

Mungkin ini yang bisa saya sampaikan terkait pertanyaan ini. Saya memohon kepada Allah
U
agar senantiasa berkenan memberikan taufik kepada kita dengan menganugrahkan ilmu dan amal yang bermanfaat.

Semoga Allah
U
senantiasa menjadikan kita orang yang mendapatkan petunjuk, berjalan di jalan para Nabi, para da’i dan orang-orang shalih. Sesungguhnya Allah
U
Maha Mampu untuk melakukan itu.

وصلى اللّه على نبينا محمد وآله وسلم تسليما كثير

 

Bagaimanakah seharusnya sikap seorang muslim dalam menghadapi aneka fitnah?

  • Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafushshaleh.

Berinteraksi dan menyikapi fitnah-fitnah tersebut adalah dengan berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah `. Beliau ` telah bersabda,

أَلاَ إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ، فَقُلْتُ: مَا الْمَخْرَجُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: كِتَابُ اللهِ.

“Ketahuilah, bahwa akan terjadi fitnah (cobaan dan kekacauan).” Aku bertanya (sahabat perawi), “Bagaimana jalan keluarnya, Ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Kitabullah.” (HR. at-Tirmidzi).

Berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ` serta konsisten mengikuti Jama’atul muslimin, inilah yang wajib dijadikan jalan keluar di saat fitnah terjadi.

Tatkala Hudzaifah bin al-Yaman a bertanya kepada Nabi ` tentang fitnah dan Nabi `
memberikan penjelasannya, maka Hudzaifahaberkata, “Apa yang engkau perintahkan kepadaku kalau aku dijumpai fitnah tersebut? Beliau jawab,

تَلْزَمْ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ، قُلْتُ، فَإنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتىَّ يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذلِكَ

“Kamu konsisten berpegang (mengikuti) kepada jama’atul muslimin dan pimpinan mereka.” Aku berkata, “Kalau mereka tidak punya jamaah atau pun imam?” Beliau jawab, “Maka pisahkanlah (isolirlah) diri kamu dari semua kelompok-kelompok itu, sekalipun kamu harus bertahan dengan menggigit kuat akar pohon hingga kematian menjemputmu, sedangkan kamu dalam keadaan seperti itu.”(HR. al-Bukhari).

Inilah sikap yang harus diambil tatkala fitnah terjadi, yaitu menjauhinya, menjaga lisan dan tidak mengatakan kecuali hal-hal yang baik saja, tidak membuat kegoncangan di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin, dan tidak pula memuji kaum perusak, atau membenarkan perbutan mereka. Allah U berfirman,

وَلاَتَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيمًا

“Dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (An-Nisa’: 105).

Dan Allah U berfirman,

وَلاَ تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنفُسَهُمْ إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا

“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” (An-Nisa’: 107).

Maka setiap insan wajib menahan lisannya dan tidak mengatakan kecuali yang baik dan benar-benar berdasarkan ilmu, menjauhi fitnah-fitnah tersebut, berpegang teguh kepada Kitabullah dan Jama’atul muslimin. Inilah yang wajib. (Syaikh Shalih al-Fauzan
t)))

 

Maka jalan keselamatan yang harus kita tempuh tiada lain kecuali wajib mengembalikan semua persoalan kepada sumber syari’at, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasul ` sesuai dengan pemahaman dan diamalkan oleh para Salafushshaleh (Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in). Dan tentu itu semua tiada lain kecuali dengan menuntut ilmu dien yang benar.

 

Oleh karena itulah penglihatan, akal pikiran kita tidak akan tersesat jika kita mengikuti jejak mereka. Dan ini adalah rahmat Allah bagi kita yang mana Dia tidak meninggalkan kita tanpa sauri tauladan, dan ulama Ahlu sunnah wal jama’ah itulah yang harus kita jadikan pemahaman, pemikiran dan perkataan mereka sebagai rujukan karena merekalah yang lebih tahu tentang syari’at ini, serta merekalah yang lebih paham tentang kaidah-kaidah global serta Dhawabith (ketentuan) yang bisa menjaga kita dari kesalahan dan dari ketergelinciran. (Ma’ali Syaikh Shaleh bin Abdil ‘Aziz Ali Asy-Syaikh)

  • Tawakkal.

Bukankah jika kita meninggalkan kemungkaran (tidak ikut pemilu salahsatunya) berarti kita telah melaksanakan salahsatu dari sekian banyak ketaatan kepada Allah U? Mengapa kita tidak berusaha dan bertawakkal kepada Allah U? Bayangkan jika semua muslim melakukan ketaatan ini, bukankah dengan demikian barakah dan pertolongan dari Allah U akan turun. Bukankah Allah U dibanyak ayat dalam Al-Qur’an telah menjanjikan semua itu kepada orang-orang yang beriman? Tidak yakinkah kita? Coba kita perhatikan firman Allah U :

y‰tãur
ª!$#
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
óOä3ZÏB
(#qè=ÏJtãur
ÏM»ys΢Á9$#
óOßg¨ZxÿÎ=øÜtGó¡uŠs9
’Îû
ÇÚö‘F{$#
$yJŸ2
y#n=÷‚tGó™$#
šúïÏ%©!$#
`ÏB
öNÎgÎ=ö6s%
£`uZÅj3uKã‹s9ur
öNçlm;
ãNåksϊ
”Ï%©!$#
4Ó|Ós?ö‘$#
öNçlm;
Nåk¨]s9Ïd‰t7ãŠs9ur
.`ÏiB
ω÷èt/
öNÎgÏùöqyz
$YZøBr&
4
ÓÍ_tRr߉ç6÷ètƒ
Ÿw
šcqä.Ύô³ç„
’Î1
$\«ø‹x©
4
`tBur
txÿŸ2
y‰÷èt/
y7ÏsŒ
y7Í´¯»s9résù
ãNèd
tbqà)Å¡»xÿø9$#
ÇÎÎÈ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 55)

Abu Ali Ad-Daqqaq v berkata, “Tawakkal itu ada tiga derajat: Tawakkal itu sendiri,berserah diri, lalu pasrah. Orang yang tawakkal merasa tenang karena janji Allah, orang yang berserah diri cukup dengan pengetahuannya tentang Allah dan pasrah adalah ridha terhadap hukum-Nya. (Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah II/235)

 

  • Sabar.

Sabar ini ada tiga macam: Sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari kedurhakaan kepada Allah, dan sabar dalam ujian Allah. Sabar mempusakakan derajat kepeloporan dan kepemimpinan. Firman Allah U :

$oYù=yèy_ur
öNåk÷]ÏB
Zp£Jͬr&
šcr߉öku‰
$tR͐öDrÎ/
$£Js9
(#rçŽy9|¹
(
(#qçR%Ÿ2ur
$uZÏG»tƒ$t«Î/
tbqãZÏ%qãƒ
ÇËÍÈ

” Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS. As-Sajdah : 24)

Syaikhul-Islam berkata, “Dengan kesabaran dan keyakinan dapat diperoleh kepemimpinan dalam agama.” (Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al-Jaujiyyah II/252)

 

#’n?t/
4
bÎ)
(#rçŽÉ9óÁs?
(#qà)­Gs?ur
Nä.qè?ùtƒur
`ÏiB
öNÏd͑öqsù
#x‹»yd
öNä.÷ŠÏ‰ôJãƒ
Nä3š/u‘
Ïp|¡ôJsƒ¿2
7s9#uä
z`ÏiB
Ïps3Í´¯»n=yJø9$#
tûüÏBÈhq|¡ãB
ÇÊËÎÈ

“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertaqwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” (QS. Ali ‘Imran : 125)

 

Rasulullah `
bersabda,

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ .

“Dan ketahuilah bahwa pertolongan itu beserta kesabaran, dan kemudahan itu bersama kesulitan.” (HR. Tirmidzi No. 2516, Ahmad I/293, lihat Al-Misykah No.5302 tahqiq oleh Syaikh al-Albani v)

 

Oleh karena itu, sebagai pencari kebenaran hakiki, jangan sampai kita mendahulukan ‘athifah (perasaan) setiap menimbang sesuatu. Mengikuti ‘athifah merupakan salahsatu faktor yang menyebabkan banyak kaum muslimin mengikuti hawa nafsunya, sehingga pada akhirnya tersesat dari jalan kebenaran.

Syaikh al-‘Utsaimin v mengingatkan , “Jika kita ingin membangkitkan kaum muslimin dari tidur dan kelalaiannya, maka kita harus berjalan sesuai dengan jalan-jalan yang tepat dan dengan asas yang kuat. Karena, kita menginginkan agar hukum-hukum (yang ada semua kembali) kepada Allah, dan kita menginginkan agar agama Allah tegak di atas bumi ini. Ini adalah tujuan yang sangat besar. Akan teapi, kalau hanya dengan ‘athifah (perasaan), maka hal itu tidak akan terwujud. Kita harus mengikat ‘athifah dengan syari’at dan akal kita.” (Ash-shahwah al-Islamiyyah, hal.52 Asy-Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin v)))

 

Demikianlah, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat, terlebih khusus buat diri kami pribadi dan kaum muslimin yang membacanya. Semoga Allah U meridhai kita dan menjadikan ini sebagai pemberat timbangan amal kebaikan di hadapan Allah U kelak. Segala kebenaran semuanya datang dari Allah U semata dan semua kekhilafan serta kekurangan dari diri kami dan syaithan.

Wallaahu a’lam

الحمدلله رب العلمين, وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم تسليما كثيرا

 

 

Selesai
, Kandangan (HSS/Kal-Sel) Jum’at 25 Muharram 1435 H / 29 November 2013 M.

 

 

 

 

Referensi:

  • Al-Qur’an Al-Kamil beserta terjemahannya, Pustaka Darussunnah.
  • Taudhihul Ahkam, Syarah Bulughul Maram, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, Pustaka Azzam.
  • Majalah As-Sunnah, edisi 04/tahun XII Rajab 1429 H / Juli 2008 M.
  • Maktabah Syamilah.
  • Ebook : Menggugat Demokrasi & Pemilu, Asy-Syaikh Muhammad Bin Abdillah Al-Imam, Pustaka Salafiyah.
  • Ebook : Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
  • Ebook : Qawaidul Fiqhiyyah, Sulaiman Abu Syeikha.
  • Ebook : Bagaimana Sikap Seorang Muslim Dalam Menghadapi Fitnah?, Maktabah Abu Salma al-Atsari.
  • Buku Keajaiban Sabar, Abu Abdillah bin Luqman al-Atsari, Pustaka Salwa Press.

  • www.muslim.or.id

  • www.salafy.or.id

  • www.artikelmuslim.com

  • http://id.wikipedia.org/wiki/Suriah

  • http://www.mirajnews.com

  • www.alsofwa.com

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s