Prolematika Kepanitiaan dan Upah Tukang Jaga/Sembelih Hewan Qurban Serta Solusinya

PROBLEMATIKA KEPANITIAAN DAN UPAH TUKANG JAGAL/SEMBELIH HEWAN QURBAN SERTA SOLUSINYA

Oleh: Ahmad Mu’min

Kandangan, 01 Dzulhijjah 1434 H/06 Oktober 2013 M

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم النبيين وعلى آلة وصحبة والتابعين له بإحسان إلي يوم الدين

أما بعد

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ (34)

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).{QS. Al-Hajj: 34}

Sesungguhnya ibadah qurban adalah ibadah yang sangat mulia yang telah diatur dengan indah dan rapi oleh Sang Peletak Syari’ah. Jangan coba-coba untuk keluar dari aturan ini karena bisa jadi qurban kita tidak sah. Berusahalah untuk senantiasa berjalan sesuai syari’at meskipun jalurnya ‘kelihatannya’ lebih panjang dan sedikit menyibukkan. Jangan pula terkecoh dengan pendapat sebagian orang, baik ulama maupun yang ngaku-ngaku ulama, karena orang yang berhak untuk ditaati secara mutlak hanya satu yaitu Nabi kita Muhammad T. Maka semua pendapat yang bertentangan dengan hadits beliau harus dibuang jauh-jauh.

Adanya kepanitiaan dan profesi sebagai jagal atau jazzar tentu harus dihargai jasanya. Sebab kalau tidak ada jagal, kita orang-orang yang awam dan tidak paham urusan menyembelih hewan akan mendapatkan kesulitan. Walaupun mungkin dikerjakan bersama-sama dalam satu team, tetapi tetap saja akan kerepotan. Sebab kerja menyembelih hewan itu butuh keterampilan dan keahlian tertentu dari orang yang sehari-harinya memang bekerja sebagai jagal.

Maka sebagaimana kita saksikan, walaupun suatu panitia penyembelihan hewan qurban terdiri dari banyak personal, tetap saja mereka butuh jagal yang profesional untuk mengerjakannya.

Adapun permasalahan sekarang yang kurang diperhatikan, ketidaktahuan ataupun ketidakberdayaan dalam menjalankannya, yakni permasalahan Status Kepanitian, Jual Beli Daging Qurban serta Mengupah Tukang Jagalnya. Mari kita cermati tuntunan syari’at beserta dalil-dalinya dalam permasalahan ini.

  1. Panitia dan Tukang Jagal

Hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ali bin Abi ThalibZ,dimana beliau di masa lalu pernah berperan seperti ‘panitia’ penyembelihan hewan qurban seperti di masa kita sekarang ini.

Dari Ali bin Abi Thalib Z
bahwa “Beliau pernah diperintahkan Nabi
T untuk mengurusi penyembelihan ontanya dan agar membagikan seluruh bagian dari sembelihan onta tersebut, baik yang berupa daging, kulit tubuh maupun pelana. Dan dia tidak boleh memberikannya kepada jagal barang sedikitpun.” (HR. Bukhari dan Muslim). dan dalam lafaz lainnya beliau berkata, “Kami mengupahnya dari uang kami pribadi.” (HR. Muslim). Dan
ini merupakan pendapat mayoritas ulama (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/379)

Status panitia maupun jagal dalam pengurusan hewan qurban adalah sebagai wakil dari shohibul qurban dan bukan amil (*). Karena statusnya hanya sebagai wakil maka panitia qurban tidak diperkenankan mengambil bagian dari hewan qurban sebagai ganti dari jasa dalam mengurusi hewan qurban. Untuk lebih memudahkan bisa diperhatikan ilustrasi kasus berikut:

Adi ingin mengirim uang Rp 1 juta kepada Budi. Karena tidak bisa ketemu langsung maka Adi mengutus Rudi untuk mengantarkan uang tersebut kepada Budi. Karena harus ada biaya transport dan biaya lainnya maka Adi memberikan sejumlah uang kepada Rudi. Bolehkah uang ini diambilkan dari uang Rp 1 juta yang akan dikirimkan kepada Budi?? Semua orang akan menjawab: “TIDAK BOLEH KARENA BERARTI MENGURANGI UANGNYA BUDI.”

Status Rudi pada kasus di atas hanyalah sebagai wakil Adi. Demikian pula qurban. Status panitia hanya sebagai wakil pemilik hewan, sehingga dia tidak boleh mengambil bagian qurban sebagai ganti dari jasanya. Oleh karena itu, jika menyembelih satu kambing untuk makan-makan panitia, atau panitia dapat jatah khusus sebagai ganti jasa dari kerja yang dilakukan panitia maka ini tidak diperbolehkan.

 

(*) Sebagian orang menyamakan status panitia qurban sebagaimana status amil dalam zakat. Bahkan mereka meyebut panitia qurban dengan ‘amil qurban’. Akibatnya mereka beranggapan panitia memiliki jatah khusus dari hewan qurban sebagaimana amil zakat memiliki jatah khusus dari harta zakat. Yang benar, amil zakat tidaklah sama dengan panitia pengurus qurban. Karena untuk bisa disebut amil, harus memenuhi beberapa persyaratan. Sementara pengurus qurban hanya sebatas wakil dari shohibul qurban, sebagaimana status sahabat Ali Z dalam mengurusi qurban Nabi T. Dan tidak ada riwayat Ali Z mendapat jatah khusus dari qurbannya Nabi T..

1

Syaikh Abdullah al-Bassam menuturkan “tukang jagal tidak boleh diberi daging atau kulitnya sebagai bentuk upah atas pekerjaannya. Hal ini berdasarkan dengan kesepakatan para ulama’. Yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai bentuk hadiah jika ia termasuk orang kaya atau sebagai sedekah jika ternyata dia adalah miskin…” (Taudhihul Ahkam , 4/464).

  1. Larangan Memperjual-Belikan Hasil Sembelihan/Qurban

Tidak diperbolehkan memperjual-belikan bagian hewan sembelihan, baik daging, kulit, kepala, teklek, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya. Allah Ta’ala telah berfirman “…Maka makanlah sebagian daripadanya dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir” (QS al-Hajj : 28)

Para ulama’ berkata bahwa sebaiknya 1/3 dimakan oleh yang berkurban, 1/3 disedekahkan kepada orang fakir miskin dan 1/3 sisanya dihadiahkan kepada kerabat. Selain itu daging kurban juga boleh dikirim ke kampung lain yang membutuhkannya. Namun tidak boleh di jual meskipun hanya kulit dan kakinya.

Bahkan terdapat ancaman keras dalam masalah ini, sebagaimana hadits berikut:

من باع جلد أضحيته فلا أضحية له

Dari Abu Hurairah Z, Rasulullah T bersabda: “Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka ibadah qurbannya tidak
ada nilainya.”
(HR. Al Hakim 2/390 & Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan: Hasan).

  1. Saran dan Solusi Dari Permasalahan
    1. Sebelum melaksanakan ibadah qurban hendaknya pengurus mengundang ulama, ustadz atau ahli syari’ah yang benar-benar menguasai dan membidangi masalah qurban ini. Lalu kita duduk dulu bersama dan mengkaji secara benar dari sumber yang paten dan valid. Kita buka ayat Al-Quran, kita bedah isi hadits RasulullahT, dan kita kaji fatwa dan penjelasan para ulama di dalamnya. Bagaimanapun pada dasarnya penyelenggaran penyembelihan hewan qurban ini pada hakikatnya adalah pengamalan dari ilmu yang kita dapat dari pengajian. Maka seharusnya kita mengaji dulu dengan benar, baru kemudian beramal dan bertindak. Semangat menjalankan program kerja tentu harus dihargai, tetapi sebelum semuanya dilakukan, tentu akan menjadi lebih berkah lagi bila dilandasi dengan ilmu pengetahuan syari’ah dan fiqih yang mendalam.
    2. Karena mengupah tukang jagal dengan/dari bagian tubuh hewan sembilahan dilarang, maka dapat dicarikan sumber dana lain seperti :

      a). Adanya penambahan biaya tukang jagal yang dibebankan sejak awal kepada pihak yang berqurban.

      b). Dari kas Masjid, Kalau kebetulan pengurus masjid juga menjadi panitia penyembelihan hewan qurban, atas persetujuan dari jamaah masjid itu, boleh saja dana upah buat jagal diambilkan dari uang kas masjid.

       

    3. Tidak perlu bingung dan merasa repot. Bukankah Ali bin Abi Thalib Z
      pernah mengurusi qurbannya Nabi
      T
      yang jumlahnya 100 ekor onta?! Tapi tidak ada dalam catatan sejarah Ali bin Abi Thalib
      Z
      bingung ngurusi kulit dan kepala. Demikianlah kemudahan yang Allah berikan bagi orang yang 100% mengikuti aturan syari’at. Namun bagi mereka (baca: panitia) yang masih merasa bingung ngurusi kulit, bisa dilakukan beberapa solusi berikut:
  • Kumpulkan semua kulit, kepala, dan kaki hewan qurban. Tunjuk sejumlah orang miskin sebagai sasaran penerima kulit. Tidak perlu diantar ke rumahnya, tapi cukup hubungi mereka dan sampaikan bahwa panitia siap menjualkan kulit yang sudah menjadi hak mereka. Dengan demikian, status panitia dalam hal ini adalah sebagai wakil bagi pemilik kulit untuk menjualkan kulit, bukan wakil dari shohibul qurban dalam menjual kulit.
  • Serahkan semua atau sebagian kulit kepada yayasan islam sosial (misalnya panti asuhan atau pondok pesantren), untuk dibagikan kepada orang miskin.(Tsamanuna mas-alatan fi Ahkamil Udhiyah, masalah No.20).

    Wallaahu a’lam.

     

Demikian tulisan yang singkat ini dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, semoga bermanfaat bagi kita semua, dan kita memohon kepada Allah agar memberikan kekuatan dan dimudahkan segala urusan, Amiin.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

 

Referensi:

  1. Maktabah Syamilah software
  2. www.mosleminfo.com

  3. Syarah Bulughul Maram (Taudhihul Ahkam Min Bulughul Maram) Pust. Azzam.
  4. Ebook Panduan Kurban Praktis http://www.yufid.com

     

     

2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s