‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Kelurusan Dan Keindahannya Bagian ke-1


S

egala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada sang nabi terakhir, Nabi Muhammad T beserta segenap keluarga dan sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya mempelajari ‘Aqidah Islam dan mendakwahkannya merupakan kewajiban yang paling wajib dan tugas yang paling penting. Sebab, diterima atau tidaknya amal tergantung pada kebenaran’aqidah. Kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat tidak bisa tercapai kecuali dengan berpegang teguh pada ‘aqidah yang benar dan bebas dari hal-hal yang berlawanan dengannya, atau yang merusak kemurniannya dan mengurangi kesempurnaannya. ‘Aqidah Islam, sebagaimana yang tercermin pada ‘aqidah Ahlussunnah Wal jama’ah, adalah ‘aqidah yang benar dan diridhai oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala untuk hamba-hamba-Nya. Itulah ‘aqidah para Nabi dan Rasul, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka, yaitu para da’i dan orang-orang yang melakukan perbaikan sampai hari kiamat.

A. MAKNA ‘AQIDAH

‘Aqidah (اَلْعَقيْدَةُ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (اَلْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu (اَلتَوثيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (الإحْكاَمُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الربْطُ بِقُوةٍ)yang berati mengikat dengan kuat. {Lisaanul ‘Arab (IX/311: عقد) karya Ibnu Manzhur (wafat th. 711 H) dan Mu’jamul Wasiith (II/614: عقد)}.

Sedangkan ‘Aqidah menurut istilah (terminologi) adalah kepercayaan yang mantap dan keputusan tegas yang tidak bisa dihinggapi kebimbangan. Kalau dikatakan bahwa seseorang meng-i’tiqadkan sesuatu maka itu maknanya dia telah mengikatkan keyakinan itu di dalam hatinya. Yang dimaksud dengan istilah ‘aqidah adalah segala sesuatu yang menjadi ideologi bagi seseorang. ‘Aqidah adalah amalan hati yang berupa keimanan di dalam hati terhadap sesuatu dan pembenaran/tashdiq tentangnya.

Jadi, ‘Aqidah Islam adalah kepercayaan atau keimanan yang mantap kepada Allah,para Malaikat-Nya, Kitab-kitab suci-Nya, para Rasul-Nya, hari Akhir, Qadar (baca: Takdir) yang baik dan yang buruk, serta seluruh muatan Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Ash-Shahihah berupa pokok-pokok agama, perintah-perintah dan berita-beritanya, serta apa saja yang disepakati oleh generasi Salafush Shalih (ijma’), dan kepasrahan total kepada Allah Ta’ala dalam hal keputusan hukum, perintah, takdir, maupun syara’, serta ketundukan kepada Rasulullah T dengan cara mematuhinya, menerima keputusan hukumnya dan mengikutinya. {Lihat Mabahits fi ‘Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah, Syaikh DR. Nashir Al-Aql. hal.9-10}.

 

B. URGENSI ‘AQIDAH

‘Aqidah yang benar adalah fundamen (dasar) bagi bangunan agama serta merupakan syarat sah (diterimanya) amal. Sebagaimana firman Allah di bawah ini yang menjadi dalilnya:

  1. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. al-Kahfi: 110). Ayat ini menunjukkan bahwa aqidah yang benar merupakan asas tegaknya agama dan syarat diterimanya amalan (lihat at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-‘Aali, hal. 9). Hal ini semakin jelas dengan ayat berikut ini…

     

  2. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, seandainya kamu berbuat syirik niscaya akan lenyap seluruh amalmu dan kamu pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65)

     

     

  3. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36). Ayat ini menunjukkan bahwa fokus dakwah para rasul yang paling utama adalah untuk memperbaiki aqidah; agar umat menyembah Allah semata dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah (lihat at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-‘Aali, hal. 10). Hal ini semakin jelas dengan ayat berikut ini…

     

  4. Allah ta’ala berfirman mengenai seruan para rasul kepada kaumnya (yang artinya), “Sembahlah Allah saja, tidak ada bagi kalian satupun sesembahan selain-Nya.” (QS. al-A’raaf: 59,65,73,85). Ucapan ini dikatakan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan segenap nabi ‘alaihimush sholatu was salam kepada kaumnya (lihat at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-‘Aali, hal. 10).

     

Begitu pentingnya ‘aqidah dalam Islam, sehingga pelurusan ‘aqidah adalah dakwah yang pertama-tama dilakukan para rasul Allah, setelah itu baru mereka mengajarkan perintah agama (syariat) yang lain.

Dengan demikian ilmu Tauhid sebagai ilmu yang menjelaskan ‘aqidah yang lurus, merupakan ilmu pokok yang harus dipahami sebaik mungkin oleh setiap umat Islam yang ingin memperdalam ilmu agamanya.

 

  • Tanpa ‘aqidah yang benar seseorang akan terbenam dalam keraguan dan berbagai prasangka, yang lama kelamaan akan menutup pandangannya dan menjauhkannya dari jalan hidup kebahagiaan.

 

  • Tanpa ‘aqidah yang lurus seseorang akan mudah dipengaruhi dan dibuat ragu oleh berbagai informasi yang menyesatkan keimanan kita.

     

 

 

Para sahabat “radhiyallaahu anhum” sama sekali tidak memiliki keraguan sedikit pun terhadap apa yang di bawa al-Quran dan apa yang dibawa oleh Sunnah Rasulullah T sehingga ‘aqidah mereka benar-benar terbangun kukuh di atas dasar Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya dan mereka sama sekali tidak dapat digoyahkan oleh suatu keraguan pun dalam hal tersebut. (Penjelasan Ringkas Matan Aqidah at-Thahawiyah )

 

Jadi, ‘aqidah yang shahih yakni ‘aqidah salaf adalah ‘aqidah yang dibangunkan di atas Kalamullah (firman-firman Allah) dan juga sabda Rasul-Nya. Oleh itu ‘aqidah ini sangat jauh dari penyimpangan, syubhat, hawa nafsu dengan itu hati-hati (Qulub) orang yang menganutnya menjadi tenang, damai, jauh dari kebimbangan, keraguan, syak, was-was, bisikan syaitan dan segala bentuk kegoncangan.

 

Apabila ‘aqidah yang tumbuh di hati jauh dari segala bentuk kegoncangan, barulah timbul rasa ‘aman’ yakni sumber kebahagiaan bagi setiap manusia.

 

Firman Allah:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (15)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat 49:15)

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (23)

 

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gementar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun. (QS. az-Zumar 39:23)

 

C. NAMA-NAMA ‘AQIDAH MENURUT ULAMA AHLUS SUNNAH

Disiplin ilmu ‘aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya.

Di antara nama-nama ‘aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:

 

  1. AL-IMAN

‘Aqidah disebut juga dengan al-Iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi T, karena ‘aqidah membahas rukun iman yang enam dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana penyebutan al-Iman dalam sebuah hadits yang masyhur disebut dengan hadits Jibril Alaihissallam. Dan para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah ‘aqidah dengan al-Iman dalam kitab-kitab mereka.

[Seperti Kitaabul Iimaan karya Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam (wafat th. 224 H), Kitaabul Iimaan karya al-Hafizh Abu Bakar ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah (wafat th. 235 H), al-Imaan karya Ibnu Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitabul Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H).]

Istilah “iman” juga digunakan untuk menyebut ilmu ‘aqidah dan meliputi seluruh masalah I’tiqodiyah, Allah Ta’ala berfirman, yang artinya;

“Barangsiapa yang kafir terhadap iman, maka terhapuslah (pahala) amalnya.” {QS. Al-Maa-idah:5}

Kata “iman” di sini berarti “Tauhid”. {Lihat Al-Wujuh wa An- Nadhoir fi Al-Qur’an Al-Karim, DR. Sulaiman al-Qar’awi, hal.187}

2. ‘AQIDAH, I’TIQAAD DAN ‘AQAA-ID

Para ulama Ahlus Sunnah sering ilmu ‘aqidah dengan istilah ‘Aqidah Salaf, ‘Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah dan ‘Aqidah Ahli Hadits. Kitab-kitab yang menyebut dengan istilah ini adalah seperti Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah wal Jama’ah karya Al-Lalika’iy (wafat thn. 418 H), ‘Aqidah As-Salaf Ashab Al-Hadits karya Ash-Shobuni (wafat thn. 449 H), dan Al-I’tiqaad karya Al-Bayhaqi (wafat thn. 458 H).

3. TAUHID

Kata “tauhid” adalah bentuk mashdar dari kata wahhada – yuwahhidu – tauhiid. Artinya menjadikan sesuatu menjadi satu. Jadi “tauhid” menurut bahasa adalah memutuskan bahwa sesuatu itu satu.

Menurut istilah, “tauhid” berarti meng-Esa-kan Allah dan menunggalkan-Nya sebagai satu-satunya Dzat pemilik rububiyyah, uluhiyyah, asma’dan sifat .

Kitab-kitab yang menyebut nama ini seperti Kitaabut Tauhiid dalam Shahiihul Bukhari karya Imam al-Bukhari (wafat th. 256 H), Kitaabut Tauhiid wa Itsbaat Shifaatir Rabb karya Ibnu Khuzaimah (wafat th. 311 H), Kitaab I’tiqaadit Tauhiid oleh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Khafif (wafat th. 371 H), Kitaabut Tauhiid oleh Ibnu Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitaabut Tauhiid oleh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab رحمه الله (wafat th. 1206 H).

4. AS-SUNNAH

Kata “As-Sunnah” di dalam bahasa arab artinya cara dan jalan hidup. Sedangkan di dalam pemahaman syara’, istilah As-Sunnah dipakai untuk menyebut beberapa pengertian menurut masing-masing penggunaannya. Ia dipakai untuk menyebut Hadits, Mubah dan sebagainya.

Alasan penyebutan ilmu ‘aqidah dengan As-Sunnah adalah karena pengikutnya mengikuti Sunnah Nabi T dan Sahabat-sahabatnya. Kemudian sebutan itu menjadi syiar (simbol) bagi Ahli Sunnah. Sehingga dikatakan bahwa Sunnah lawan (antonim) dari Bid’ah.

Demikianlah, banyak ulama yang menulis kitab-kitab tentang ilmu ‘aqidah dengan judul “Kitab As-Sunnah”. Di antaranya:

~ Kitab As-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hambal {wafat:241H}.

~ As-Sunnah karya Al-Atsram {wafat:273H}.

~ As-Sunnah karya Abu Daud {wafat:275H}.

~ As-Sunnah karya Abu Ashim {wafat:287H}.

~ As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad bin Hambal {wafat:290H}

~ As-Sunnah karya Al-Khallal {wafat:311H}.

~ As-Sunnah karya Al-Assal {wafat:349H}.

~ Syarh As-Sunnah karya Ibnu Abi Zamnin {wafat:399H}.

5. ASY-SYARI’AH

Syari’ah dan Syir’ah adalah agama yang ditetapkan dan diperintahkan oleh Allah seperti puasa, shalat, haji dan zakat.

Jadi, “Asy-Syari’ah” adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah ‘aqidah). Di antara kitab-kitab para ulama yang menyebutkan nama ini seperti “Asy-Syarii’ah” karya Al-Ajurri {wafat:360H} dan “Al-Ibaanah ‘an Syarii’atil Firqah An-Naajiyah” karya Ibnu Baththah.

6. USHULUDDIN DAN USHULUDDIYANAH

Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yang qath’i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama. Seperti kitab Ushuuluddin karya al-Baghdadi (wafat th. 429 H), “asy-Syarh wal Ibaanah ‘an Ushuuliddiyaanah” karya Ibnu Baththah al-Ukbari (wafat th. 387 H) dan “al-Ibaanah ‘an Ushuuliddiyaanah” karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat th. 324 H).

Sebagian ulama mengingatkan bahwa nama ini tidak selayaknya digunakan. Karena pembagian agama menjadi ushul (pokok) dan furu’ (cabang) adalah sesuatu yang “baru” dan belum pernah ada pada masa Salaf. Menurut mereka, pembagian ini tidak memiliki batasan-batasan definitif dan bisa menimbulkan ekses-ekses yang tidak benar. Sebab, boleh jadi orang yang tidak mengerti Islam atau orang yang baru masuk Islam memiliki anggapan bahwa di dalam agama ini terdapat cabang-cabang yang bisa ditinggalkan. Atau dikatakan, bahwa di dalam agama ini ada inti dan ada kulit. Dan sebagian ulama menyatakan, “yang paling aman adalah dikatakan, ‘aqidah dan syari’ah, masalah-masalah ilmiyah (kognitif) dan masalah-masalah amaliyah (aplikatif), atau ilmiyat dan amaliyat”. {Lihat Tabshir Ulil Albab bi Bid’ati Taqsim Ad-diin ila Qisyr wa Lubab, Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ismail Al-Muqaddam}.

D. OBYEK KAJIAN ‘AQIDAH

‘Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu -sesuai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah- meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, masalah ghaibiyyaat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yang qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka.

E. PENAMAAN ‘AQIDAH MENURUT FIRQAH (SEKTE) LAIN

Ada beberapa istilah lain yang dipakai oleh firqah (sekte) selain Ahlus Sunnah sebagai nama dari ilmu ‘aqidah, dan yang paling terkenal di antaranya adalah:

1. Ilmu Kalam

Penamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mutakallimin (pengagung ilmu kalam), seperti aliran Mu’tazilah, Asyaa’irah dan kelompok yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena ilmu Kalam itu sendiri merupa-kan suatu hal yang baru lagi diada-adakan dan mempunyai prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas Nama Allah dengan tidak dilandasi ilmu. Dan larangan tidak bolehnya nama tersebut dipakai karena bertentangan dengan metodologi ulama Salaf dalam menetapkan masalah-masalah ‘aqidah.

2. Filsafat

Istilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.

3. Tashawwuf

Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena merupakan penamaan yang baru lagi diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka yang dijadikan sebagai rujukan dalam ‘aqidah.

4. Ilahiyat

IIstilah ini dikenal di kalangan ahli kalam, filsuf dan orientalis. Sebagaimana disebut juga ilmu Lahut. Di Universitas-universitas Barat terdapat jurusan yang disebut dengan Jurusan Kajian Lahut.

5. Metafisika (di balik alam nyata)

Sebutan ini dikenal di kalangan filsuf, penulis Barat dan sebagainya.

Setiap komunitas manusia meyakini ideologi tertentu yang mereka jalankan dan mereka sebut sebagai agama dan’aqidah.

Sedangkan ‘aqidah Islam -jika disebutkan secara mutlak- adalah ‘Aqidah Ahli Sunnah wal Jamma’ah. Karena, Islam versi inilah yang diridhai oleh Allah untuk menjadi agama bagi hamba-hamba-Nya. Waallaahu ta’ala a’lam. ( bersambung…Insya Allah)

Sumber: Buletin Amsaka Vol. 07 Jumadil Tsani 1433 H.

Maraaji’ :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s